Hitung IMT (Indeks Massa Tubuh) anak usia sekolah berdasarkan usia, jenis kelamin, tinggi, dan berat badan. Ini adalah skrining awal. Untuk penilaian status gizi anak yang paling akurat, gunakan kurva pertumbuhan BMI-for-age (WHO).
Status: –
Jika IMT terlihat terlalu rendah/tinggi, atau ada kekhawatiran soal pertumbuhan, sebaiknya evaluasi dengan kurva pertumbuhan dan konsultasi dokter anak/Sp.GK.
Disclaimer: Kalkulator ini bersifat edukasi dan skrining awal. Status gizi anak sebaiknya ditentukan berdasarkan IMT menurut umur (BMI-for-age), riwayat makan, aktivitas, pubertas, dan kondisi kesehatan.
Indeks Massa Tubuh atau IMT dapat membantu orang tua mendapatkan gambaran awal mengenai perbandingan berat dan tinggi badan anak. Cara hitung IMT anak menggunakan rumus yang sama seperti perhitungan IMT pada orang dewasa, yaitu berat badan dalam kilogram dibagi kuadrat tinggi badan dalam meter.
Namun, cara membaca hasilnya berbeda. Angka IMT anak tidak boleh langsung dibandingkan dengan batas IMT orang dewasa karena pertumbuhan anak masih terus berubah. Hasilnya perlu disesuaikan dengan usia dan jenis kelamin menggunakan indikator Indeks Massa Tubuh menurut Umur atau IMT/U.
Gunakan kalkulator IMT anak di atas untuk memperoleh perhitungan yang lebih praktis berdasarkan data usia, jenis kelamin, berat badan, dan tinggi badan anak.
Rumus untuk menghitung indeks massa tubuh anak adalah:
IMT = berat badan (kg) ÷ tinggi badan (m)²
Sebagai contoh, seorang anak memiliki berat badan 30 kg dan tinggi badan 130 cm.
Tinggi badan perlu diubah terlebih dahulu dari sentimeter menjadi meter:
130 cm = 1,30 meter
Kemudian lakukan perhitungan:
IMT = 30 ÷ (1,30 × 1,30)
IMT = 30 ÷ 1,69
IMT = 17,75 kg/m²
Hasil tersebut menunjukkan bahwa nilai IMT anak adalah 17,75 kg/m². Akan tetapi, angka 17,75 belum dapat langsung disebut kurus, normal, atau berlebih tanpa membandingkannya dengan usia serta jenis kelamin anak.
Kementerian Kesehatan menetapkan IMT menurut umur sebagai salah satu indeks untuk menilai status gizi anak. Untuk anak usia sekolah, penilaiannya menggunakan standar IMT/U sesuai umur dan jenis kelamin.
Kalkulator IMT anak online dapat digunakan untuk membantu melakukan skrining awal status gizi anak tanpa menghitung rumus secara manual.
Masukkan data anak dengan langkah berikut:
Pastikan angka berat dan tinggi badan yang dimasukkan merupakan hasil pengukuran terbaru. Kesalahan saat mengukur atau memasukkan data dapat memengaruhi hasil perhitungan.
Kalkulator ini berfungsi sebagai alat skrining awal dan bukan sebagai pengganti diagnosis atau pemeriksaan langsung oleh tenaga kesehatan.
Kalkulator IMT anak sekolah dasar dapat digunakan untuk anak usia SD dengan memasukkan jenis kelamin, usia, berat badan, dan tinggi badan. Data usia dan jenis kelamin diperlukan karena rentang IMT yang dianggap sesuai dapat berubah selama masa pertumbuhan.
Sebagai contoh, anak laki-laki berusia 7 tahun dan anak laki-laki berusia 11 tahun bisa memiliki angka IMT yang sama, tetapi posisi angka tersebut pada kurva pertumbuhan belum tentu sama. Hal serupa juga berlaku ketika membandingkan hasil anak laki-laki dan perempuan.
Karena itu, penilaian IMT anak sekolah dasar tidak cukup hanya dengan melihat angka akhirnya. Hasil perlu dibandingkan dengan standar IMT menurut umur atau BMI-for-age.
WHO menyediakan kurva BMI-for-age yang berbeda untuk anak laki-laki dan perempuan usia 5–19 tahun. Kurva tersebut mempertimbangkan perubahan komposisi tubuh selama pertumbuhan.
Kalkulator ini juga dapat digunakan sebagai skrining awal untuk kelompok usia sekolah lainnya, termasuk:
Untuk anak yang belum genap berusia 5 tahun, interpretasinya perlu mengikuti standar IMT/U anak usia 0–60 bulan karena kategori dan ambang batasnya tidak sepenuhnya sama dengan anak usia 5–18 tahun.
Cara membaca hasil IMT anak berbeda dari orang dewasa. Pada orang dewasa, angka IMT dapat dibandingkan dengan rentang tetap. Sementara itu, pada anak, angka IMT perlu dikonversi dan dibandingkan dengan standar berdasarkan umur serta jenis kelamin.
Salah satu bentuk penilaiannya adalah Z-score IMT menurut umur. Z-score menunjukkan posisi hasil pengukuran anak dibandingkan dengan standar pertumbuhan.
Berdasarkan Standar Antropometri Anak dari Kementerian Kesehatan, kategori IMT/U untuk anak usia 5–18 tahun adalah sebagai berikut.
| Z-score IMT menurut umur | Kategori status gizi |
|---|---|
| Kurang dari -3 SD | Gizi buruk |
| -3 SD sampai kurang dari -2 SD | Gizi kurang |
| -2 SD sampai +1 SD | Gizi baik |
| Lebih dari +1 SD sampai +2 SD | Gizi lebih |
| Lebih dari +2 SD | Obesitas |
WHO juga menggunakan batas kurang dari -2 SD untuk kategori kurus, kurang dari -3 SD untuk sangat kurus, lebih dari +1 SD untuk berat badan berlebih, dan lebih dari +2 SD untuk obesitas pada acuan BMI-for-age usia 5–19 tahun.
Hasil gizi baik berarti nilai IMT menurut umur anak berada dalam rentang standar. Meskipun demikian, hasil tersebut tetap perlu dilihat bersama dengan pola pertumbuhan anak dari waktu ke waktu.
Seorang anak dapat memperoleh hasil gizi baik pada satu kali pemeriksaan, tetapi tetap memerlukan evaluasi apabila berat badannya berubah drastis, tinggi badan tidak bertambah sesuai pola sebelumnya, atau muncul keluhan kesehatan tertentu.
Hasil gizi kurang atau gizi buruk menunjukkan nilai IMT menurut umur berada di bawah rentang standar. Kondisi tersebut dapat berkaitan dengan asupan energi yang belum mencukupi, pola makan yang terbatas, gangguan penyerapan zat gizi, penyakit tertentu, atau faktor lainnya.
Hasil kalkulator tidak dapat menentukan penyebabnya. Pemeriksaan lebih lanjut diperlukan untuk menilai riwayat makan, perubahan berat badan, pertumbuhan tinggi badan, kondisi kesehatan, dan faktor lain yang mungkin berpengaruh.
Gizi lebih atau obesitas berarti nilai IMT menurut umur berada di atas rentang standar. Kondisi tersebut tidak hanya dipengaruhi oleh banyaknya makanan yang dikonsumsi, tetapi juga dapat berkaitan dengan jenis makanan, aktivitas fisik, waktu tidur, faktor keluarga, penggunaan obat tertentu, dan kondisi kesehatan.
Orang tua sebaiknya tidak langsung menerapkan diet ketat kepada anak. Perubahan pola makan pada masa pertumbuhan perlu tetap memenuhi kebutuhan energi, protein, vitamin, mineral, dan zat gizi lainnya.
Kalkulator IMT dapat disebut sebagai salah satu bentuk kalkulator gizi anak sekolah karena membantu melakukan skrining status gizi berdasarkan berat badan, tinggi badan, usia, dan jenis kelamin.
Namun, IMT bukan satu-satunya indikator untuk menilai kondisi gizi dan pertumbuhan anak.
Penilaian yang lebih menyeluruh dapat mempertimbangkan:
Standar Antropometri Anak Kementerian Kesehatan mencakup beberapa indeks, termasuk berat badan menurut umur, tinggi badan menurut umur, berat badan menurut tinggi badan, dan IMT menurut umur. Penilaiannya tidak selalu cukup dilakukan menggunakan satu indeks saja.
Karena itu, hasil kalkulator gizi anak sekolah sebaiknya digunakan untuk mengenali kemungkinan masalah lebih awal, bukan untuk mendiagnosis kondisi kesehatan secara mandiri.
Usia dan jenis kelamin dibutuhkan karena tubuh anak mengalami perubahan selama masa pertumbuhan. Tinggi badan, berat badan, massa otot, dan komposisi lemak tubuh dapat berubah seiring bertambahnya usia.
Anak laki-laki dan perempuan juga dapat memiliki pola pertumbuhan yang berbeda, terutama menjelang serta selama masa pubertas. Itulah sebabnya standar BMI-for-age WHO menyediakan tabel dan kurva yang terpisah berdasarkan jenis kelamin.
Penggunaan usia yang terlalu umum, misalnya hanya “10 tahun”, juga dapat memberikan hasil yang kurang presisi dibandingkan usia dalam tahun dan bulan. Standar Kementerian Kesehatan untuk anak usia 5–18 tahun menyediakan nilai IMT/U berdasarkan umur sampai hitungan bulan.
Hasil kalkulator bergantung pada ketepatan data yang dimasukkan. Sebelum menghitung IMT, lakukan pengukuran dengan cara yang konsisten.
Untuk mengukur berat badan, letakkan timbangan pada permukaan yang datar. Anak sebaiknya menggunakan pakaian ringan, tidak memakai alas kaki, dan berdiri tenang di tengah timbangan.
Untuk mengukur tinggi badan, anak berdiri tegak tanpa alas kaki dengan punggung menghadap alat ukur atau dinding yang rata. Pandangan diarahkan lurus ke depan dan posisi kepala tidak terlalu menunduk atau mendongak.
Usahakan melakukan pengukuran menggunakan alat yang sama ketika memantau perubahan berat dan tinggi badan dari waktu ke waktu.
Pertimbangkan konsultasi dengan dokter atau tenaga kesehatan apabila:
Konsultasi membantu menentukan apakah anak memerlukan perbaikan pola makan, pemantauan pertumbuhan, pemeriksaan kesehatan, atau pendampingan khusus. Bila ditemukan masalah gizi, tata laksana perlu disesuaikan dengan kebutuhan masing-masing anak.